Follow me on Twitter RSS FEED

Rumah Jengki

PENGERTIAN ARSITEKTUR JENGKI

Arsitektur jengki adalah salah satu langgam pelopor arsitektur Indonesia pascakemerdekaan pada 1950-1960. Gaya ini lahir berlandaskan semangat penolakan terhadap arsitektur kolonial dan Indies oleh arsitek angkatan pertama Indonesia. Seperti penolakan terhadap simetri atau bentuk-bentuk detail untuk pintu dan jendela.

Arsitektur jengki adalah salah satu langgam arsitektur yang berkembang di era 1950-an yang mempunyai bentuk khas dan unik dengan cirri tersendiri dan merupakan tahap lanjutan dari periode arsitektur Hindia Belanda yang menandai era peralihan dari colonial ke langgam Indonesia modern.

Menurut Professor Sidharta dari UNDIP, arsitektur jengki adalah salah satu langgam arsitektur yang berdasarkan penjelasan salah seorang pelaku sejarah merupakan bangunan yang bentuknya miring-miring.

LATAR BELAKANG ARSITEKTUR JENGKI

Sekitar tahun 70-an, di jalan besar kota-kota di Indonesia banyak sekali dijumpai rumah-rumah bergaya arsitektur jengki. Tentu saja itu menjadi pemandangan yang sangat menarik. Tahun 80-an masih ada walaupun tidak banyak. Tahun 90-an masih terlihat satu atau dua rumah bergaya jengki. Tahun 2000-an sangat mengkhawatirkan rumah bergaya Jengki mulai lenyap dari pandangan. Artinya ada yang hilang dari sejarah kota di Indonesia terkait dengan perkembangan dunia arsitektur. Kata jengki biasanya dihubungkan dengan kata Yankee, sebuah sebutan bagi orang-orang New England yang tinggal di bagian Utara Amerika Serikat atau seseorang yang lahir dan tinggal di bagian Utara Amerika Serikat, khususnya tentara yang berperanguntuk penyatuan dalam Perang Sipil di Amerika (Encarta Dictionary, 2003). Menurut Sukada (2004) istilah Yankee mempunyai konotasi negatif. Karakter yang berbeda dari yang berlaku secara umum itu patut diduga memberi inspirasi untuk menamai gaya rumah atau arsitektur yang lahir di Indonesia yang sangat khas, dan tidak sama dibandingkan dengan arsitektur sebelumnya. Istilah jengki juga untuk menyebut model busana tahun 70-an, yakni ’celana jengki’ dengan ciri-ciri celana panjang yang ketat dan sangat kecil bagian bawahnya. Jengki juga digunakan untuk menyebut nama sepeda, yaitu ’sepeda jengki’, bahkan untuk menyebut meja kursi yang populer tahun 70-an dengan sebutan ’mebel jengki’. Intinya istilah jengki dipakai untuk menyebut beberapa karakter yang keluar dari mainstream yang ada pada saat itu. Ketidak-samaan rumah gaya jengki dengan arsitektur yang berkembang sebelumnya itu ditekankan oleh Roesmanto (2004) dari jurusan Arsitektur UNDIP Semarang, bahwa rumah gaya jengki berbeda dengan arsitektur bergaya kolonial, dan bahkan sangat lain dengan arsitektur tradisional yang ada di Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebagai karya arsitektur, rumah gaya jengki dapat dikategorikan sebagai arsitektur modern khas Indonesia. Tumbuh tahun 1950-an ketika arsitek-arsitek Belanda dipulangkan ke negerinya. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia memiliki karya arsitektur ini.



Pendapat senada dikemukakan oleh Prakoso (2002), seorang pemerhati lingkungan binaan, bahwa hadirnya rumah gaya jengki di Indonesia dilatarbelakangi oleh munculnya arsitek pribumi yang notabene adalah tukang ahli bangunan sebagai pendamping arsitek Belanda. Para ahli bangunan pribumi tersebut kebanyakan lulusan pendidikan menengah bangunan. Ketika pergolakan politik di Indonesia masih memanas sekitar tahun 1950 sampai 1960-an, ditandai semakin berkurangnya arsitek Belanda dan munculnya para ahli bangunan lulusan pertama arsitek Indonesia menjadi poin yang membentuk perkembangan rumah bergaya jengki (Kompas, 2002).

Menurut Sukada (2004) dari jurusan Arsitektur Universitas Indonesia Jakarta, sekitar tahun 60-an di daerah Kebayoran Baru Jakarta muncul rumah-rumah gaya jengki. Saat itu suasana Indonesia relatif tenang dari pergolakan setelah kemerdekaan. Memunculkan keinginan dari beberapa pihak untuk ’membebaskan diri’ dari segala yang berbau kolonialisme. Termasuk keinginan untuk tidak membuat arsitektur bergaya Belanda. Keinginan yang kuat itu terkendala tidak adanya ahli yang bisa meneruskan pembangunan dibidang konstruksi di negara ini. Pemerintah Indonesia kemudian memanfaatkan siapa saja yang dirasa mampu bekerja dibidang konstruksi itu, meskipun kebanyakan dari mereka lulusan Sekolah Teknik Menegah (STM). Hal tersebut disebabkan karena saat itu pendidikan mengenai bangunan terbatas pada jenjang STM (Rumah, 2004).
Munculnya gaya arsitektur jengki itu kemudian menyebar di kota-kota besar di Indonesia bahkan di kota-kota kecil. Untuk kota-kota besar penyebarannya terkait dengan pola penyebaran arsitek Belanda dan asistennya yang pribumi. Artinya ketika arsitek Belanda pulang ke negerinya, maka bangunanbangunan termasuk rumah gaya jengki dirancang oleh para ahli bangunan yang sebelumnya pernah menjadi asisten arsitek Belanda. Mengenai munculnya rumah-rumah jengki di kota-kota kecil, keahlian para tukang bangunan mempunyai peranan yang lebih banyak, termasuk dalam menyebarkan gaya tersebut sampai ke pelosok (Kompas, 2002). Penjelasan menarik terkait gaya jengki dikemukakan oleh Silas (2003) dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Gaya itu bermula dari film-film Amerika yang beredar secara luas di Indonesia. Film itu adalah film cowboy (koboi) yang ada adegan draw atau mencabut pistol dengan cepat dan menembak lawan untuk menyelesaikan perselisihan. Posisi koboi yang siap menarik pistolnya dengan kaki terbentang miring itulah yang menjadi ilham untuk melahirkan arsitektur atau rumah bergaya jengki (Kompas Jatim, 2003).

Mengamati fenomena rumah jengki sebagai karya arsitektur yang khas Indonesia, memunculkan beberapa persoalan yang ingin diketahui jawabannya.
Permasalahan secara umum adalah semakin sedikitnya rumah gaya jengki di kota-kota besar Indonesia dan bersalin rupa menjadi bentuk yang berbeda dan dikawatirkan akan hilang. Persoalan yang menarik dikemukakan adalah seperti apakah bentuknya, bagaimana estetikanya dan seperti apa makna yang terkandung di dalamnya ketika diinterpretasi sesuai dengan konteksnya? Hal ini penting untuk dikemukakan sebelum karya arsitektur yang pernah mewarnai sejarah arsitektur kota-kota besar bahkan sampai kotakota kecil di Indonesia itu benar-benar tidak terselamatkan dan lenyap tanpa bekas

CIRI-CIRI ARSITEKTUR JENGKI

Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam arsitektur Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris, overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. Berikut penjelasan tentang ciri-ciri utama arsitektur jengki.

Atap pelana
Rumah – rumah bergaya jengki menggunakan atap pelana (atap yang memiliki dua bidang atap) dengan kemiringan atap tidak kurang dari 35. Kemiringan atap yang curam memudahkan mengalirnya air hujan ketika musim penghujan (arsitektur tropis). Pada beberapa bangunan atap ini mengecil ke belakang. Namun pada umumnya cenderung simetris. Ada juga yang memiliki perbedaan ketinggian atap (atap tidak bertemu pada satu sisi yang sama sehingga membentuk bidang dinding yang lebih kecil sekaligus sebagai penutup rongga yang terjadi. Biasanya pada bidang ini ditempatkan jalusi atau krawang sebagai lubang angin.

Dinding depan (Gewel) yang miring
Penggunaan atap pelana menghasilkan sebuah tembok depan yang cukup lebar sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tampak depan bangunan. Tembok depan yang dikenal dengan gewel ini menjadi sarana kreativitas arsitek dalam pengolahan tampak depan bangunan, diperkuat dengan kehadiran dinding ybagian tepi yang miring keluar membentuk bidang segi lima (pentagonal).
Dinding miring ini sebenarnya tidak berkaitan langsung terhadap kekuatan konstruksi bangunan, tetapi lebih kepada kreativitas untuk menghadirkan tampak bangunan. Hal ini merupakan cirri anti geometris atau cirri anti tegak lurus.
Pada beberapa rumah bidang dinding ini menghadap kesamping, saling berhadap-hadapan dengan rumah sebelahnya. Ada juga yang bidang dinding miringnya menghadap jalan utama. Pada perkembangan selanjutnya sisi tegak yang dimiringkan tersebut kadang-kadang cukup pada salah satu sisi saja, sehingga bentuk pentagonal tidak utuh lagi. Dijumpai juga pada beberapa rumah, bidang miring ini tidak hanya berupa dinding, tapi berupa kolom yang mengecil ke bawah.

Teras / beranda
Kehadiran teras disini terasa sebagai sebagai sebuah komposisi yang ditempatkan pada bagian tertentu sebagai penyeimbang kesan keseluruhan. Pada umumnya teras merupakan bagian yang berdiri sendiri, dan kalaupun menyatu dengan bangunannya tidak merusak bidang miring yang timbul, karena sosoknya hanya sebagai tempelan yang disesuaikan dengan komposisi elemen lainnya. Penggunaan sudut kemiringan atap yang tinggi memberikan karakter bentuk beranda sebagai unsur mandiri.
Beranda ini yang menandai pintu masuk ke dalam bangunan yang dihadirkan sebagai sebuah portico, yaitu bangunan beratap di depan pintu masuk. Pada umumnya atap datar menjadi pilihan utama bagi beranda. Atap datar inilah yang memberikan artikulasi untuk membedakannya dengan bangunan utama yang beratap pelana. Beberapa fungsi yang diwadahi di dalam beranda ini adalah sebagai penegas pintu masuk ke dalam bangunan, sebagai tempat penerima, dan sebagai ruang peneduh dan penyejuk bagi ruangan di dalamnya.

Permainan bentuk kusen dan perletakan jendela
Banyak ditemui permainan bentuk kusen jendela yang asimetris serta permainan letak jendela dengan ketinggian yang tidak sejajar. Kadang – kadang terdapat pelipit atau level datar di atas maupun sekeliling kusen sebagai pelindung dari panas dan hujan.

Pengkombinasian bahan bangunan asli Indonesia sebagai bahan pelapis dinding luar
Kombinasi bahan bangunan yang digunakan untuk pelapisan dinding juga merupakan ciri tersendiri dari arsitektur jengki, karena bahan-bahan bangunan yang dipergunakan asli Indonesia. Pengenalan bahan bangunan sebagai unsur yang lebih dari sekadar penutup bangunan adalah poin pentingnya. Kombinasi yang diterapkan meliputi batu belah, pasangan batu serit, kubistis batu paras dan susunan batu telor. Ciri yang lain adalah penyelesaian dinding yang dibuat kasar. Dinding yang kasar tidak dibuat menggunakan kerikil seperti layaknya yang digunakan oleh orang Belanda, namun dicapai dengan semen yang dilempar-lemparkan ke dinding tanpa finishing lagi.

Ornamen – ornamen sebagai elemen dekoratif muka bangunan

Elemen dekoratif pada muka bangunan bergaya arsitektur Jengki berupa ornamen-ornamen. Ornamen ini cukup penting sebagai daya tarik penampilan dan ungkapan kebebasan dari arsitek dan penghuninya. Ragam hias yang digunakan kebanyakan ciptaan arsitek dengan pola garis linier vertical dan horizontal, dikombinasi dengan garis meliuk dan motif-motif alam seperti matahari, sulur-sulur tanaman, gelombang laut dan sebagainya. Penempatannya kebanyakan pada bidang dinding atau menempel pada salah satu elemen, pada kolom bangunan misalnya.

Krawang atau Rooster
Krawang atau rooster merupakan salah satu elemen yang memberikan dalih penyesuaian terhadap iklim tropis. Fungsinya tidak hanya sekedar untuk pergantian udara, namun lebih dari itu sebagai media untuk mengekspresikan estetika baru. Bentuknya bermacam-macam dari yang segilima, segitiga, lingkaran sampai trapezium tak beraturan. Namun kebanyakan menggunakan krawang bundar. Biasa ditempatkan pada dinding yang pentagonal.

Penataan ruang dalam yang bersifat lebih terbuka
Penataan “ruang dalam” bangunan berarsitektur jengki mengalami perubahan dalam orientasi hubungan antar ruang. Pada masa sebelumnya hubungan antar ruang ditata dengan tingkat privasi yang sangat ketat. Ruang keluarga (pemilik) betul-betul terpisah dengan ruang servis (pembantu) baik dari segi sirkulasi maupun visual. Pada arsitektur jengki pengaturan ruang keluarga dan non keluarga lebih terbuka.

CORAK ARSITEKTUR JENGKI

Ada beberapa corak arsitektur jengki yang diungkapkan oleh Budi Sukada yaitu:

Corak Awal
Berupa ujud pentagonal yang terletak di atas sebuah kubus dalam posisi yang kritis (seakan dapat jatuh sewaktu-waktu), sehingga menimbulkan ketegangan. Masing-masing bagian diolah sesuai dengan ujudnya sehingga semakin jelas berbeda. Bagian bawah diolah dengan teknik kontras antara massif dan menerawang namun berdasarkan pola yang geometris, sedangkan bagian atas diolah sebagai volume ujud pentagonal. Dengan demikian ada bidang yang dibuat miring dan ujud pentagonal, sedangkan komponen lain dibuat anti geometris (anti kubus dan anti tegak lurus). Selain itu jika bangunan tersebut hanya satu lantai, maka bentuk kubus tidak dipakai lagi, yang ada tinggal bentuk pentagonal yang menempel di atas permukaan tanah.

Corak Baru
Bentuknya mirip dengan rancangan rumah-rumah popular di Amerika Serikat namun diberi dalih yang berbeda, yaitu sebagai bentuk yang mengekspresikan pemanfaatan iklim tropis. Dalam perkembangannya, corak pertama menghilang karena terserap corak kedua. Demikian rupa sehingga corak kedua seakan merupakan perkembangan dari corak pertama.

MAKNA GAYA ARSITEKTUR JENGKI

Rumah gaya jengki dalam konteks zaman dapat ditafsirkan mencerminkan gaya hidup ada masanya. Seperti yang diungkapkan oleh Sukada (2004), saat mulai berkembangnya banyak orang menginginkan rumahnya bergaya jengki. Terutama orang-orang dari kalangan yang mampu atau berada, mengubah penampilan rumahnya dengan gaya arsitektur jengki. Hal ini dikarenakan dengan penampilan tersebut dapat mencerminkan status sosial atau identik dengan orang kaya dan terpandang. Menurut Koentjaraninrat seperti yang dikutip oleh Sachari dan Sunarya (2001), ada tiga pola gaya hidup bagi masyarakat Indonesia, yakni :
(1) program modernisasi;
(2) kebudayaan adaptif; dan
(3) westernisasi.
Melihat model pembagian tersebut masyarakat pemilik rumah gaya jengki lebih mengarah pada pola gaya hidup kebudayaan adaptif, yakni menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Artinya mengikuti tren yang berkembang saat itu.














3 komentar:

isetyabudi mengatakan...

terima kasih referensinya mas...
menarik sekali. btw sy mau tanya, apakah ars jengki itu berkembang hanya di sekitar jalan raya, penyebaran tidak teratur dan sulit ditemui? terus apakah yang dipentingkan hanya sebatas gaya/selubung luar bangunan? terima kasih

FEBY mengatakan...

wah lengkap banget den, aq copy bwt referensi y

eca mengatakan...

bagus, lengkap bgt :)

Poskan Komentar